Sifat-sifat yang Tidak Disukai Oleh Atasan - Forum Lowongan Kerja & Mitra Kerja Indonesia

Salah satu kunci sukses dalam bekerja adalah kemampuan bekerja sama
dengan "Bos" atau atasan. Untuk itu anda harus menjaga jangan sampai
atasan tidak menyukai anda. Nah, sehubungan dengan itu, ada tujuh sifat
yang tak disukai setiap atasan -- siapapun, dan kapanpun. Ketujuh sifat
tersebut yang perlu kita buang jauh-jauh adalah:

1--Pembohong

Siapa suka bekerja dengan orang yang tak jujur? Tentu tak ada. Siapapun
sukar bekerja dengan orang yang akan mengatakan A padahal kenyataannya
B. Apalagi seorang atasan yang menggantungkan informasi pada bawahannya.
Ia pasti tak suka bila ada yang mengatakan laporan sudah dikirim, padahal
belum. Mungkin anda takut atasan akan marah sehingga terpaksa berbohong.
Tetapi, jangan lupa, begitu dia tahu anda berbohong, dia akan lebih
kecewa dan jengkel. Apalagi kalau ketidakjujuran itu menyangkut uang
atau harta perusahaan. Bukan tidak mungkin anda akan diberhentikan.


2--Melempar Tanggung Jawab

"Bukan saya, tetapi mereka yang ...," inilah kalimat yang acapkali
diucapkan oleh pelembar tanggung jawab. Sudah jelas-jelas bahwa
kekeliruan pengiriman barang adalah kesalahannya dalam menulis pesanan,
tetapi dia katakan pemasoklah yang salah mengirim. Sifat seperti ini
tak akan disukai atasan.
Umumnya atasan masih bisa menerima terjadinya kesalahan yang tak
disengaja tetapi akan jengkel bila si pembuat kesalahan ternyata tak mau
bertanggung jawab.


3--Pembelot

Sifat inipun sangat menjengkelkan setiap atasan. Atasan mana yang tak
kesal jika perintahnya dianggap angin lalu. Contohnya, sudah diatur
bahwa laporan mingguan harus diserahkan setiap akhir minggu,
tetapi Tito tak pernah mau membuatnya. Kalau ditagih malah mengatakan
sistem laporan itu tak ada gunanya dan kemudian mengajak berargumentasi.
Atasan pun membenci bawahan yang suka menerobos dan mengabaikan prosedur.
Anton, misalnya, seorang salesman, dengan gampangnya menjanjikan potongan
harga yang lebih besar daripada potongan yang ditetapkan. Akibatnya?
Atasan jadi repot menghadapi tuntutan pelanggan. Bagi Anton, yang penting
targetnya tercapai, dagangannya laku, dan soal prosedur adalah omong kosong.
Sifat membelot dan main sodok ini bukan sifat yang baik dari seorang bawahan.


4--Tak Disiplin

Setiap perusahaan punya aturan, dan salah satu tugas atasan adalah
menjaga agar aturan berjalan lancar. Tentu dia akan jengkel apabila
anda sering terlambat masuk kantor, ngobrol tak berketentuan selama
jam kerja, sering absen tanpa alasan, dan sebagainya Dan ketidakdisiplinan
ini bukan saja menjengkelkan, tetapi juga seperti penyakit yang mudah
menular pada karyawan lain.


5--Selalu Mengeluh

Asti sebenarnya rajin dan baik hati, sayangnya dia punya segudang
keluhan. Ada saja yang dikeluhkan. entah itu AC yang kurang dingin,
deadline yang mepet, tugas terlalu bertumpuk, teman kerja cerewet,
kursi terlalu keras, dan sebagainya. Celakanya semua keluhan ini dia
tumpahkan pula pada atasannya di setiap kesempatan. Tentu saja atasan
jadi kesal. Atasan khan bukan psikolog atau penampung keluhan. Mungkin
Asti hanya cari perhatian, tetapi yang pasti sifat suka mengeluh ini
tak akan pernah disukai atasan.


6--Loyo



Tak ada atasan yang suka pada bawahan yang tampak loyo dan tak
bersemangat. Keloyoan ini bisa tercermin dari muka murung, tampang
mengantuk, atau pakaian acak-acakan. Bisa juga terlihat kalau sedang
mengerjakan tugas dengan malas-malasan, atau setengah hati, lamban,
dan akhirnya mengganggu kelancaran pekerjaan. Bukan itu saja, yang
membuat atasan tak suka hal demikian, karena keloyoan akan mudah
menciptakan suasana kerja yang tak bergairan pada orang lain.


7--Tak Punya Dedikasi

Dedikasi artinya pengabdian. Seorang bawahan yang berdedikasi tak hanya
menyelesaikan tugasnya dengan baik. Kalau perlu ia pun mau bekerja di
luar jam kerja tanpa terlalu mempersoalkan imbalan. Bahkan tak segan untuk
membantu pekerjaan orang lain bila diminta. Yang penting baginya semua
pekerjaan lancar dan perusahaan pun maju. Sebaliknya ada bawahan yang
selalu berhitung untung rugi. Dia hanya mau mengerjakan tugasnya sendiri
dengan seadanya saja tanpa mau mengejar prestasi. Pulang selalu tepat waktu, bahkan jam kerja belum lagi usai dia sudah berkemas-kemas. Bila diberi tugas di luar jam kerja mungkin masih mau menerima tetapi dengan muka masam atau langsung menolak. Sifat semacam ini sungguh menggemaskan atasan.